4 Things I See In a Photo.

Good day, been a year since my last post. I notice that my audiences are mainly from Indonesia (duh… kemane aje….). So I decided to write in my native language. Jadi ya per post ini kita pake bahasa kekinian aja yak.

Post kali ini, kita ngomongin fotografi. Justifikasi: sekarang kerjanya udah rutin, jadi gak bisa jalan2 semau jidat kayak dulu. Dan kebetulan anaknya emang suka foto, dan beberapa bulan ini lagi seneng experimen foto. so let’s talk about it.

Nah ik gak bisa bilang “Foto yang Benar kayak gimana?” karena emang gak ada yg salah. Inga inga, fotografi adalah seni, so tergantung preferensi senimannya. Lalu karena ini blog gua, ya kita ngomonginnya preferensi gua aja.

Jadi Kayak apa Tuh Persisnya?

Secara umum I look at 4 things:

  1. Sharpness
  2. Komposisi
  3. Kontras & Exposure
  4. Warna

4 hal ini yang pertama banget I liat, udah disusun berdasarkan urutan ngeliatnya. dan semua foto, suka gak suka, dapet perlakuan yang sama. Kenapa? Karena prejudice cuma bikin pandanganmu sempit, nak.

Let’s dig deeper!

Sharpness

Terjemahannya: Ketajaman. Secara umum, gua gak suka foto bokeh. Aestetiknya gak suka. I like my pictures sharp. Jadi ini kenapa sharpness jadi nomer 1. I like it. Kalo ukurannya kecil, gak keliatan sharp / gak sharpnya, coba di klik biar gede.

Sharp pictures juga jadi indikasi buat gua soal qualitas berfoto si fotografer. karena foto2 yg relatively fokus semua means bukaan kecil, bukaan kecil means either fotonya pas cahaya lagi kompak, ngerti kamera sendiri, punya steady hands, atau paham cara pake tripod. either way, means you have experiences.

Lalu soal sharp banget sama sharp ajah, ini pekara lensa. so far, AF kamera jadoel eke belum mengecewakan. let’s stick with sharp ajah.

Komposisi

Yang ini rada ribet jelasinnya. I can’t explain this to you without getting technical. Ada yang sampe nulis 1 buku soal komposisi doang. Tp let me try:

Komposisi versi stipen adalah: komponen2 apa saja dan dimana peletakannya didalam sebuat scene. Komposisi ini bukan cuma cara untuk mengarahkan mata audiens ke subjek, tp dia juga bisa convey a feeling. Dan dia kalo dipraktekan, seringnya bikin foto lebih menarik.

In short: kalo foto komposisinya gak asik, somehow foto teh jadi kurang sedap dipandang.

Next time yak baru bahas composition in depth, gua bikin dulu contoh2nya. kalo di web gini gak boleh pake foto orang. Kalo pake foto yang gretong asa kurang gigit euy (baca: males nyari).

Kontras & Exposure

Nah ini udah mulai semi2 antara teknik njepret sama teknik retouching. Here’s the thing, kalimat “kontrasnya cukup” VS “kontrasnya kebanyakan” itu kumaha selera. and gak ada batasan pasti, even for me.

Kontras pengertiannya kurang lebih gini: seberapa jauh jarak 1 warna ke warna lain. think hitam ke agak hitam. Atau abu-abu terang ke putih, atau merah ke merah darah, you get the idea. Semakin jauh jaraknya, separasi warnanya akan makin kelihatan (nggak smooth gradasi warnanya). Lalu exposure itu kontrol buat seberapa terang foto. 2 hal ini digabungin karena I don’t want to touch technicals for now.

Kontras bikin foto lebih 3 dimensi. Kontras nambahin mood dan elemen drama dalam foto. I don’t like dramas, tp foto-foto yang kontrasnya rada tinggi kebanyakan gua suka. “Dramatic” kalo bahasa kerennya mah.

Warna

Nahh ini poin terakhir yg ik liat. karena ini most of the time masuk ke bagian retouching. disini bagian pamer skill ngeretouch. Ideally, I do not wish to retouch too much, however bikin warna foto “right out from the camera” is still too expensive for me.

I like foto2 yang less saturated. Gak masalah warnanya bener apa ajaib (bayangin daon warnanya jadi cyan) yang penting less saturated. They are easier on the eye.

Kombinasi warna juga diperatiin, I find that using standard color harmonies techniques create the best looking color combo. Don’t get me wrong, I too can appriciate experimentations.

What About Noise? atau over retouching?

Over retouching….ini hard subject to answer juga. kapan kita bisa bilang over? kapan kita bilang kurang? bingung kan? Lagian… yang gitu2 bukan masalah buat gua. selama 4 poin itu masuk, gua bilangnya bagus. They are my closest quantify-able measurements about your attention to your photography. FYI: I judge people silently, tranquilo, ese.

Soal noise, perlu diingat kalo gak semua orang punya kamera kekinian. Gua masi pake lungsuran 450D bekas ade gua. dan itu noisenya gak becanda kalo udah ISO 400 up. Bisa bikin karya seni juga kok.

Lalu kalo udah yang diedit sizenya (ngecilin / ngegedein). Gua kira mah sah2 aja. Namanya juga seni. However, I don’t think it is wise untuk alter terlalu banyak. nanti krisis identitas lho. (Banyak yang swipe kanan sih, but are you sure it’ll get to second date?)

Closing

The only logical reason fotografer profesional maunya perfect langsung dari kamera adalah masalah efisiensi (IMO yeh IMO). Kalo doi kelamaan ngeretouch atuh rugi waktu. Lebih cepat deseu bisa deliver end product, lebih cepat deseu dibayar. Lebih cepat dalam hal terima duit is always better. Dan frankly, lebih gampang (sama jauh lebih cepat) untuk betulin poni di lokasi daripada di aplikasi.

About retouching…. unless lo pede banget ama skill retouching jej, kalo fotonya gak memungkinkan, mending ambil ulang daripada maksain diretouch. It’ll save you time and efforts.

Until next time! gua juga belom tau mo ngebahas apaan. Ancer-ancer si gak jauh dr fotografi. But we’ll see, kali tetiba suka masak yekan? Tell me what you think at the comment section. Ada ide buat artikel selanjutnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s